Minggu, 30 Agustus 2015

[Book Review] Kedai 1002 Mimpi

Sudah baca Kedai 1001 Mimpi ? Nah, kalau sudah, silahkan baca buku lanjutan-nya: Kedai 1002 Mimpi. Kak Vibi menceritakan awal kisah-nya saat ingin menulis Kedai 1001 Mimpi dan menjabarkan kegiatan-nya setelah pulang dari Arab ke Bandung, Indonesia. Yihaaaaa!

Tetapi,
ternyata pulang ke Indonesia bukanlah akhir dari mimpi buruk Kak Vibi, dia kerap mengalami mimpi buruk, sampai saat jalan kaki diserempet motor yang sepertinya sengaja, hadiah yang tak diinginkan seperti hinaan dan teror pun sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Kak Vibi.

Bagusnya,
untuk mengisi waktu dan dompet, Kak Vibi bersama Kak VanVan (Kakak perempuan-nya) membangun sebuah rumah makan: Warung Ngebul.

Ironisnya,
saat menjalani Warung Ngebul, beberapa kali didatangi beberapa penawar jasa gaib! Sampai menawari ‘hewan’ peliharaan seperti: Babi ngepet, ratu ular pesugihan, bulus putih, macan kerah dan entah apa lagi.

Dan Kak Vibi
juga menceritakan salah satu kenyataan pahit asam kalau dia pernah ditawari ajakan sopan yang brutal yaitu threesome oleh rekan kerja-nya saat di Saudi. Nama rekan kerja-nya Raul Gonzales. Ya, Anda tidak salah, dia diajak threesome sama laki! Oalah.


Quotes yang menurut saya Kak Vibi seperti biasa-nya yang jago banget membentuk kata demi kata:
“Mungkin Tuhan sengaja memberikan dingin, agar siap menerima sapaan panas.” (p.78)
“Gelak tawa Teh Yuti mampu menghilangkan sekejap kenangan burukku tentang Saudi. Aku ingin sekali meramu tawanya ke dalam kapsul untuk minum tiga kali sehari.” (p.57)
“Aku jadi belajar sesuatu, bila terlanjur dituduh menyeburkan diri, kita sekalian saja loncat indah.” (p.82)
“Aku lebih senang pamer hasil, ketimbang pamer rencana.” (p.90)


Dan, seperti biasanya lagi, Kata-kata berirama Kak Vibi pun berhamburan rapi di buku ini:
“Tak diduga, tapi penuh sangka.” (p.82)
“Saat warung tutup, kami semua basah kuyup.” (p.88)
“Aku bisa kembali membaca buku tanpa hambatan, atau sekadar berbincang-bincang dengan tanaman.” (p.175)
“Beberapa rupa mereka kukenal akrab, sisanya terasa asing. Atau memang aku yang sengaja berpaling.” (p.182)
“Seringkali aku tertidur bahagia, terbangun nestapa.” (p.198)
“Tapi sudahlah, aku mengalah. Mungkin memang benar-benar salah.” (p.206)
“Aku mendambakan hening yang lebih bening, walaupun itu harus menempuh berbagai tebing.” (p.208)
“Mereka bebas menghina, kita bebas berkarya.” (p.322)
“Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.” (p.334)
“Dipuji atau dicaci maki, akan berkarya sampai mati.” (p.334)


Di buku ini dipastikan nggak kalah seru-nya dengan Kedai 1001 Mimpi, jika banyak yang bilang buku ini nggak se-seru Kedai 1001 Mimpi, silahkan baca dan pahami kalimat ini lagi dan lagi: 
"Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.”

Ini dia, kritikan ataupun hinaan dari para pembaca yang diceritakan di buku ini:
Pembaca membual: 
"Kedai 1001 Mimpi banyak yang ngaco! Anda jangan mengada-ada. Beberapa adegan harus diganti.”

Kak Vibi membalas:“Saya tidak pernah meminta Anda untuk percaya buku saya. Malah di buku Kedai 1001 Mimpi saya memohon pembaca untuk mencari data dan fakta sendiri.”



Saya tetap mendoakan Kak Vibi agar selalu kuat menghadapi cobaan dari para makhluk. Dan yang buat saya lebih senang baca buku ini karena typo nya lebih dikit ketimbang Kedai 1001 Mimpi. Jadi lebih nyaman bacanya. Anda siap untuk membaca kisah-nya lagi?


Salam berkarya!


Kamis, 27 Agustus 2015

[Book Review] Kedai 1001 Mimpi

Kali ini siap mental yak, hati -hati untuk membaca review dari buku yang isinya... *ehem-hem*

Kedai 1001 Mimpi, apa yang terbesit di dalam pikiran anda saat membaca judul buku ini? Kalau saya sih, kirain cara sukses buka kedai. Alamak! Dodol kali beta!  :P

Penulis buku ini telah menjadi salah satu penulis terfavorit saya. Panggilan-nya Kak Vibi. Aslinya sih, Valiant Budi. Keren juga yak namanya #eakk

Dia seorang

penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah, awalnya hanya untuk menulis buku tentang travel dari negri 1001 mimpi ini. Tetapi, Saudi Arabia memberikan Kak Vibi kejutan manis sedikit dan pahitnya banyak banget-nget-nget-nget! Saya sampai bisa geram sepuluhkali. Eh iya, tahu nggak, saat sedang menyelami kisah-kisah lucu di buku Kedai 1001 Mimpisaya bisa sampai tertawa terbahak-bahak bijak 20-an kali. Ya, saya sampe hitung berapa kali saya ketawa karena kata-kata yang dilontarkan dengan lucu-lucu cerdas. Eh. Kurang kerjaan banget yakk! #sukasuka #kepakjubah


Tibalah
Kak Vibi di Negri 1001 Mimpi ini. Dan setelah melalui berbagai proses, Kak Vibi akhirnya bekerja sebagai PSK disana! Waduh! Eitsss, jangan salah kaprah duyu, PSK = Peracik Susu Kopi. #senyumgila

Duh, bahasa keren-nya sih...

Barista. Tetapi, kerjaan-nya merangkap semua! Dari nyapu, ngepel, ngelap, susun meja kursi, bikin sukoi (susu kopi), sampe buang sampah. Memang itu bukanlah pekerjaan yang rendah justru mulia kok, hanya saja kan di perjanjian kerja tidak ada, hanya jadi Barista. Ah, saya tahu, ini akal-akalan Bos nya saja untuk menekan pengeluaran untuk tambahan tenaga kerja. Dan parahnya, ada plus hadiah yang tak indah: Dimarahi Bos, menyimak rekan kerja yang aneh-nya akut dan kronis, melayani pelanggan yang jorok dan nggak sabaran banget, terus difitnah mencuri dan hampir masuk penjara.

Kak Vibi yang dipanggil
Ahmed, Ahmad, Kabayan, ... oleh para pelanggan kedai kopi di Arab, yang awalnya hanya membuat Kak Vibi kebingungan. Sampai Kak Vibi dikirain orang Filipina, karena cowok Filipina menjadi favorit teman kencan om-om disana, parahnya dia sering dia digodain om-om, duh... om-om nya suka genit lagi, suka kedipin mata yang mungkin kelilipan batu karang.

Menurut saya,
cerita bahagia disini itu saat Kak Vibi bertemu beberapa orang Indonesia disana dan menjadi teman berbagi cerita yang memilukan. Saya paling demen sama ketegaran Teh Yuti. Teh yuti adalah istri orang Arab yang dulunya TKI juga. Anda harus baca kisahnya bagaimana bisa dia nikah sama orang Arab yang sekaligus adalah majikan-nya sendiri!

Di buku ini, terlalu banyak kata-kata berirama yang pas, tapi terkadang agak aneh. Ah, ini sudah menjadi gaya khas penulisan ala Kak Vibi. Dan kabar baiknya, saya suka sekaliii.
“Tidur sesaat menunggu si Bos sesat.” (p.37) 
“Hah, arah pembicaraannya mulai tak tertebak, tapi bisa dipastikan gak enak.” (p.58)
“Aku ingin dikenal sebagai TKI tampan atletis dan hobi pamer betis.” (p.63)
“Ingin mengeluh, tapi rasanya belum butuh.” (p.67)
“Hari demi hari tidak ada yang baru. Aku masih setia jadi babu.” (p.79)
“Untuk sebuah umpan, kita memang harus berkorban.” (p.206)
“Anak-anak manja ini, sekali semprot langsung kempot. Banyak gaya tapi tak berdaya.” (p.203)
“Kalau sampai mereka membuat onar, aku tidak akan segan-segan meliar.” (p.238)
“Hari mulai lelap, aku tertidur lelap.” (p.330)

Ada juga nih, kata-kata Kak Vibi yang bagi saya puitis mengikis iris buncis, apacih! Hahaha.
“Akhirnya kunyalakan AC kamar sampai suhu terdingin, merekayasa tubuh agar rindu air panas.” (p.53)
“Saat kacanya kugeser dikit saja, angin panas berebut masuk. Oh, bahkan angin pun ingin mendinginkan diri.” (p.53-54)
“Baru jalan 2 meter, buntelan keringat sudah bisa memandikan kucing 2 ekor.” (p.55)
Awalnya saya tahu tentang Kak Vibi karena Kak Trinity (Penulis buku Naked Traveler) ada ngetweet tentang blog Kak Vibi, setelah baca, saya jadi ingin tahu siapa Kak Vibi sebenarnya. Dan akhirnya menjadi penggemar ringan-nya sampai saat ini.



Setelah pada membaca buku ini, selain banyak yang memuji, Kak Vibi juga kerap menerima hinaan yang tidak sedikit ditambah nyelekit. Kak Vibi sering diteror dan sampai ban mobil Kak Vibi pun jadi korban-nya. Ada yang merasa Kak Vibi menghina Islam, ada yang bilang di Arab tidak ada kejadian seperti itu, ada yang bilang kisah di buku-nya mengada-ngada dan Kak Vibi nggak pernah suruh percaya. Kan, kan... saya jadi #kenavirusberiramadaritadi

Saya suka dan salut sekali sama Kak Vibi, walaupun nggak ganteng #maapkak tapi menarik. Menarik karena Kak Vibi berani banget menulis tentang kenyataan yang dialaminya di Arab. Mungkin ini yang Kak Vibi pegang teguh: 
"Dipuji atau dicaci maki, akan berkarya sampai mati."
Saya yakin dengan sok tahu, lahirnya 1 kalimat motto Kak Vibi tersebut dikarenakan pengalaman pahit yang lebih sering Kak Vibi terima, walaupun manis nya tetap ada sih, icip-icip gitu.


Moral of the story
1. Setelah menamatkan buku ini dalam 3 hari. Saya sadar, ternyata baca buku yang tebal-nya 443 halaman terasa mudah karena saya selalu penasaran. Dari rasa penasaran itulah saya menelusuri buku ini sampai habis dan mengetahui cukup banyak hal.
2. Merasa sangat bersyukur sekali bisa lahir dan menetap di Indonesia. Seperti kata Kak Vibi: 
"Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagipula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."
---

Kak Vibi! Berkarya terus yah, saya tunggu buku non-fiksi selanjutnya. Saya suka sekali rangkaian kata-kata yang dibuat dengan sangat cerdas dan pas. Saya juga salut banget sama keberanian dan kejujuran Kak Valiant Budi!

Salam berkarya sampai mati!

Selasa, 11 Agustus 2015

Toko Buku Online yang Keren! (2)

Sudah baca Kedai 1001 Mimpi ? Nah, kalau sudah, silahkan baca buku lanjutan-nya: Kedai 1002 Mimpi. Kak Vibi menceritakan awal kisah-nya saat ingin menulis Kedai 1001 Mimpi dan menjabarkan kegiatan-nya setelah pulang dari Arab ke Bandung, Indonesia. Yihaaaaa!

Tetapi,
ternyata pulang ke Indonesia bukanlah akhir dari mimpi buruk Kak Vibi, dia kerap mengalami mimpi buruk, sampai saat jalan kaki diserempet motor yang sepertinya sengaja, hadiah yang tak diinginkan seperti hinaan dan teror pun sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Kak Vibi.

Bagusnya,
untuk mengisi waktu dan dompet, Kak Vibi bersama Kak VanVan (Kakak perempuan-nya) membangun sebuah rumah makan: Warung Ngebul.

Ironisnya,
saat menjalani Warung Ngebul, beberapa kali didatangi beberapa penawar jasa gaib! Sampai menawari ‘hewan’ peliharaan seperti: Babi ngepet, ratu ular pesugihan, bulus putih, macan kerah dan entah apa lagi.

Dan Kak Vibi
juga menceritakan salah satu kenyataan pahit asam kalau dia pernah ditawari ajakan sopan yang brutal yaitu threesome oleh rekan kerja-nya saat di Saudi. Nama rekan kerja-nya Raul Gonzales. Ya, Anda tidak salah, dia diajak threesome sama laki! Oalah.


Quotes yang menurut saya Kak Vibi seperti biasa-nya yang jago banget membentuk kata demi kata:
“Mungkin Tuhan sengaja memberikan dingin, agar siap menerima sapaan panas.” (p.78)
“Gelak tawa Teh Yuti mampu menghilangkan sekejap kenangan burukku tentang Saudi. Aku ingin sekali meramu tawanya ke dalam kapsul untuk minum tiga kali sehari.” (p.57)
“Aku jadi belajar sesuatu, bila terlanjur dituduh menyeburkan diri, kita sekalian saja loncat indah.” (p.82)
“Aku lebih senang pamer hasil, ketimbang pamer rencana.” (p.90)


Dan, seperti biasanya lagi, Kata-kata berirama Kak Vibi pun berhamburan rapi di buku ini:
“Tak diduga, tapi penuh sangka.” (p.82)
“Saat warung tutup, kami semua basah kuyup.” (p.88)
“Aku bisa kembali membaca buku tanpa hambatan, atau sekadar berbincang-bincang dengan tanaman.” (p.175)
“Beberapa rupa mereka kukenal akrab, sisanya terasa asing. Atau memang aku yang sengaja berpaling.” (p.182)
“Seringkali aku tertidur bahagia, terbangun nestapa.” (p.198)
“Tapi sudahlah, aku mengalah. Mungkin memang benar-benar salah.” (p.206)
“Aku mendambakan hening yang lebih bening, walaupun itu harus menempuh berbagai tebing.” (p.208)
“Mereka bebas menghina, kita bebas berkarya.” (p.322)
“Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.” (p.334)
“Dipuji atau dicaci maki, akan berkarya sampai mati.” (p.334)


Di buku ini dipastikan nggak kalah seru-nya dengan Kedai 1001 Mimpi, jika banyak yang bilang buku ini nggak se-seru Kedai 1001 Mimpi, silahkan baca dan pahami kalimat ini lagi dan lagi: 
"Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.”

Ini dia, kritikan ataupun hinaan dari para pembaca yang diceritakan di buku ini:
Pembaca membual: 
"Kedai 1001 Mimpi banyak yang ngaco! Anda jangan mengada-ada. Beberapa adegan harus diganti.”
Kak Vibi membalas:“Saya tidak pernah meminta Anda untuk percaya buku saya. Malah di buku Kedai 1001 Mimpi saya memohon pembaca untuk mencari data dan fakta sendiri.”

Pembaca kocak: 
“Anda siap mati dengan menulis buku ini?”
Kak Vibi bertanya kembali: “Maaf ya, memangnya Anda─yang tidak menulis buku ini─gak akan mati?”

Pembaca yang mungkin hobinya menghakimi: 
“Public figure apa hell figure lo? Siap-siap busuk di neraka!”
Kak Vibi dengan kesalnya: “Yah, kalau surga ternyata isinya orang yang senang mencaci, mengutuk seperti Anda, saya juga ogah!” 



Saya tetap mendoakan Kak Vibi agar selalu kuat menghadapi cobaan dari para makhluk. Dan yang buat saya lebih senang baca buku ini karena typo nya lebih dikit ketimbang Kedai 1001 Mimpi. Jadi lebih nyaman bacanya. Anda siap untuk membaca kisah-nya lagi?



Salam berkarya!

Selasa, 04 Agustus 2015

[Book Review] "Tuesdays with Morrie"

Pertama kali membaca kata “Tuesdays with Morrie” saya kirain sebuah film. Eh, ternyata buku! Ah, ntah saya kurang perhatiin atau apa. Yang jelas, saya selesaikan membaca bukunya yang 209 halaman hanya dalam sehari. Bukan apa-apa sih, cuma saya jarang banget baca buku langsung bisa selesai dalam sehari. Hati-hati, buku ini seperti candu yang sekali memulai, sulit untuk berhenti membaca.



Tak perlu dielak lagi, ini buku dashyat banget pelajaran hidupnya. Bagaimana tidak, seorang professor bernama Morrie menderita penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau penyakit Lou Gehrig adalah penyakit ganas, tak kenal ampun, yang menyerang sistem saraf, yang juga menimpa Stephen Hawking. Bahkan, menurut statistik, penyakit ALS ini 90% tidak bisa disembuhkan. Benarkah? Mengenai hal ini, dr. H. Taufan Budi S, SpBs dari RS Medistra dan RS Satyanegara, Jakarta, menjelaskan, ALS adalah penyakit degenerasi saraf motorik yang progresif atau makin lama makin buruk. Saraf pada otot motorik atau pergerakan, mulai dari otak ke sumsum tulang belakang lalu ke otot, mengalami degenerasi atau penuaan. Akibatnya, otot motorik atau otot lurik yang berfungsi sebagai pergerakan tidak dapat menerima perintah otak. 


---

Oke, saya tidak mau panjang lebar tentang penyakitnya, saya hanya memberi sedikit informasi bahwa penyakit tersebut sangatlah ganas. Bisa dibilang badan seseorang akan lumpuh pelan-pelan dengan pasti.

Ya, pada tahun 1994, Morrie mulai menderita penyakit yang tak kenal ampun ini. Mitch, mahasiswa yang dulunya selalu berbagi cerita dengan Morrie, yang juga tidak bertemu selama 16 tahun. Pergi menemui Morrie setelah Ia tahu keadaan Morrie saat itu, yang Mitch ketahui dari suatu kebetulan. Sebuah kisah baru saja dimulai.

Seseorang yang menderita penyakit ALS, pasti down tapi Morrie memandang penyakitnya sebagai makna yang berarti dan banyak yang Morrie pelajari sehubungan dengan penyakit ini. Setiap Selasa, 2 manusia Selasa: Morrie dan Mitch berbincang mengenai apapun: Tentang kematian, emosi, keluarga, perkawinan, uang, dll.


Ini beberapa quotes yang dikatakan Morrie kepada Mitch :
“Setiap orang mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya bahwa itu bisa terjadi pada mereka dalam waktu dekat.”  (p.85) 
“Jika kau menerima bahwa kau dapat mati kapan saja──barangkali kau tak akan seambisius sekarang.”  (p.89) 
“Segala sesuatu yang menyita waktumu──pekerjaanmu──mungkin tak sepenting yang kau kira. Kau mungkin perlu menyisihkan ruang untuk kehidupan spiritual.”  (p.89) 
"Kau tahu salah satu yang diajarkan Buddhisme? Jangan mengikatkan diri pada kebendaan, karena segala sesuatu tidak kekal."  (p.109) 
“Apabila kita belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar cara menghadapi hidup.”  (p.111)
“Semakin bertambah usia kita, semakin banyak yang kita pelajari. Apabila usia kita tetap 20 tahun, kita akan sama bodohnya dengan usia 20 tahun. Kita tahu bahwa penuaan tidak hanya berarti pelapukan, tetapi juga pertumbuhan. Penuaan tidak hanya bermakna negatif, bahwa kita akan mati, tetapi juga makna positif, bahwa kita mengerti kenyataan bahwa kita akan mati, dan karena itu kita berusaha untuk hidup dengan cara lebih baik.”  (p.125-126)

Beruntung sekali Mitch, bisa mengenal sosok Morrie dengan begitu baik dan yang saya lihat hubungan mereka seperti ayah dan anak, bahkan kedekatan mereka melebihi ayah dan anak kandung pada umumnya. Morrie juga berkata jika ingin punya anak lagi, dia ingin anak itu yang tak lain dan tak bukan adalah Mitch.

Ah, saya terlalu jatuh cinta dengan buku ini. Morrie sangat bisa memaknai hidupnya sebegitu berarti, walaupun ditengah-tengah keadaan yang sangat mencekamnya. Penyakit nya yang terus menggerogoti tubuh nya tanpa belas kasihan. Morrie yang berhati besar, humoris dan tenang dalam menghadapi ajal nya. Mungkin saja ajaran Buddhisme yang membuat Morrie bisa berdamai dengan keadaan nya itu. Karena beliau beberapa kali di dalam buku menyebutkan kata "Buddhisme". Dan di dalam buku ini mempunyai alur cerita maju mundur, bab yang hurufnya dicetak miring kebanyakan tentang masa lalu. Mungkin ini salah satu ciri khas Mitchell Albom dalam menulis buku. Keren deng!

Saya sengaja tulis dan post tentang ini tepat pada hari Selasa juga supaya lebih greget gitu sesuai dengan judul bukunya, hihihi :D Semoga kata-kata Morrie yang bermakna bisa kita praktekkan dalam hidup ini. Walaupun saya hanya mengenal sosok Morrie lewat yang diceritakan Mitch di buku, tapi saat baca bukunya berasa Morrie langsung berbicara kepada saya mengenai makna hidup. Ah, saya ingin sekali mempunyai guru seperti Morrie, atau bahkan ingin punya ayah seperti Morrie. Well done, Mitch! Yang sudah menceritakan dan menyampaikan kata-kata Morrie yang begitu dalam maknanya tapi tak sulit dipahami. Membuat para pembaca hanyut, tetapi tidak terhanyut. Thank you, Morrie.
---

Sedikit tambahan, walaupun saya tidak mengenalnya langsung, saya rasa sangat pantas jika saya sangat berterima kasih kepada Alex Tri Kantjono Widodo, sebagai alih bahasa buku ini, yang diterjemahkan dengan sangat baik, karena saya tahu menerjemahkan sangat melelahkan dan sangat memakan daya pikir kita, saya pernah alami. Dan juga karena saya yang tidak terlalu pintar dalam berbahasa inggris, sangat merasakan kemudahan dalam pemahaman saat membaca dengan bahasa tercinta kita sendiri, yaitu bahasa Indonesia. Thank a lot, Alex. Whoever you are, you did really a good job.

Minggu, 02 Agustus 2015

Toko Buku Online yang Keren!

Nah! Saya senang sekali dengan pelayanan toko buku online yang satu ini. Ya, bukabuku.com memberikan harapan nyata bagi para pemburu buku yang males untuk pergi ke toko buku. Sebenarnya bukannya males ke toko buku cuma kalau lagi nggak singgah untuk keperluan utama selain membeli buku, ya... males juga. Eh. berarti males ya? Sama aja dongs! Ihik. Dan toko buku online ini yang menjadi solusi tepat bagi saya. Semoga demikian juga untuk anda.

"Apa saja keuntungan belanja di bukabuku.com?"

#1
Suka banget ada promo, lumayan kan dapat potongan 20% , bisa menghemat. Dan setelah saya bandingkan ternyata lebih murah dari toko buku online lainnya, walaupun lebih murah Rp 2.000,00 - Rp 5.000,00 tetap aja menguntungkan dan bisa lebih hemat-mat-mat!

#2
Percuma lebih murah dan bisa menghemat kalau servis nya nggak bagus. Ya kan? Tapi di bukabuku pelayanan nya pol! Saya kirim e-mail beberapa kali tentang buku yang pending (dalam artian masih ada di gudang supplier), bisa dibalas dengan sopan dan baik dan benar-benar diusahakan sampai ada buku nya, setelahnya siap dikirim dan sampai deh ke rumah.

#3
Senangnya bisa COD (Cash On Delivery) dalam pembayaran. Jadi begini, saat lagi pesan buku, tak perlu bayar dulu, pembayaran bisa dilakukan saat buku nya telah tiba di rumah kita, kita bisa langsung bayar ke pengirim nya, cash di depan rumah. Tapi, kalau mau transfer via ATM tetep bisa kok. Jadi bagi yang nggak suka ribet transfer pakai ATM, bisa lewat layanan COD yang pastinya terjamin!

#4
Tampilan katalog buku sangat rapi dibandingkan dengan toko buku online lainnya. Jadi nyaman banget buat mantengin berjam-jam dalam pilih-pilah buku yang akan dibeli.

#5
Gratis pembatas buku lho!



Tapi,
ada yang nggak saya suka dari bukabuku yaitu jarangnya review buku dari para pembaca. Jadi sebelum beli bukunya saya cek review orang-orang dari goodreads Supaya lebih yakin buku yang akan saya beli adalah buku yang bagus dan sesuai menurut saya. Dan memang ada yang lebih murah dari bukabuku, saya menemukannya, tetapi setelah hanya 1-2 buku yang lebih murah, sisanya masih lebih murah di bukabuku.com dan pastinya terjamin keaslian buku nya, setelah belasan buku yang sudah saya cicipi melalui bukabuku

Dan,
saya lagi coba belanja di bukukita, katanya sih saingan nya bukabuku. Saya nemu buku di bukukita yang bukabuku tidak tersedia. Nanti setelah saya coba belanja, saya akan bikin review tentang bukukita dan perbandingan dengan bukabuku. So, ditunggu yah!





Saya nggak lagi promosi lho, cuma seneng aja bisa belanja di bukabuku dan saya tidak dibayar untuk merekomendasikan ini. Bagi saya, memberikan pelayanan yang seperti sebelumnya saat saya melakukan pembelian buku sudah lebih dari cukup, karena memang itu yang selalu saya utamakan sebagai pembeli. Kalau anda bagaimana? Udah deh langsung aja buruan hunting buku yang anda suka karena... banyak diskonnya! :D

Jika anda mempunyai rekomendasi toko buku online yang tak kalah bagus nya sama ini, boleh dongs dikasih tahu lewat comment box.

Salam bacabuku!