Kamis, 27 Agustus 2015

[Book Review] Kedai 1001 Mimpi

Kali ini siap mental yak, hati -hati untuk membaca review dari buku yang isinya... *ehem-hem*

Kedai 1001 Mimpi, apa yang terbesit di dalam pikiran anda saat membaca judul buku ini? Kalau saya sih, kirain cara sukses buka kedai. Alamak! Dodol kali beta!  :P

Penulis buku ini telah menjadi salah satu penulis terfavorit saya. Panggilan-nya Kak Vibi. Aslinya sih, Valiant Budi. Keren juga yak namanya #eakk

Dia seorang

penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah, awalnya hanya untuk menulis buku tentang travel dari negri 1001 mimpi ini. Tetapi, Saudi Arabia memberikan Kak Vibi kejutan manis sedikit dan pahitnya banyak banget-nget-nget-nget! Saya sampai bisa geram sepuluhkali. Eh iya, tahu nggak, saat sedang menyelami kisah-kisah lucu di buku Kedai 1001 Mimpisaya bisa sampai tertawa terbahak-bahak bijak 20-an kali. Ya, saya sampe hitung berapa kali saya ketawa karena kata-kata yang dilontarkan dengan lucu-lucu cerdas. Eh. Kurang kerjaan banget yakk! #sukasuka #kepakjubah


Tibalah
Kak Vibi di Negri 1001 Mimpi ini. Dan setelah melalui berbagai proses, Kak Vibi akhirnya bekerja sebagai PSK disana! Waduh! Eitsss, jangan salah kaprah duyu, PSK = Peracik Susu Kopi. #senyumgila

Duh, bahasa keren-nya sih...

Barista. Tetapi, kerjaan-nya merangkap semua! Dari nyapu, ngepel, ngelap, susun meja kursi, bikin sukoi (susu kopi), sampe buang sampah. Memang itu bukanlah pekerjaan yang rendah justru mulia kok, hanya saja kan di perjanjian kerja tidak ada, hanya jadi Barista. Ah, saya tahu, ini akal-akalan Bos nya saja untuk menekan pengeluaran untuk tambahan tenaga kerja. Dan parahnya, ada plus hadiah yang tak indah: Dimarahi Bos, menyimak rekan kerja yang aneh-nya akut dan kronis, melayani pelanggan yang jorok dan nggak sabaran banget, terus difitnah mencuri dan hampir masuk penjara.

Kak Vibi yang dipanggil
Ahmed, Ahmad, Kabayan, ... oleh para pelanggan kedai kopi di Arab, yang awalnya hanya membuat Kak Vibi kebingungan. Sampai Kak Vibi dikirain orang Filipina, karena cowok Filipina menjadi favorit teman kencan om-om disana, parahnya dia sering dia digodain om-om, duh... om-om nya suka genit lagi, suka kedipin mata yang mungkin kelilipan batu karang.

Menurut saya,
cerita bahagia disini itu saat Kak Vibi bertemu beberapa orang Indonesia disana dan menjadi teman berbagi cerita yang memilukan. Saya paling demen sama ketegaran Teh Yuti. Teh yuti adalah istri orang Arab yang dulunya TKI juga. Anda harus baca kisahnya bagaimana bisa dia nikah sama orang Arab yang sekaligus adalah majikan-nya sendiri!

Di buku ini, terlalu banyak kata-kata berirama yang pas, tapi terkadang agak aneh. Ah, ini sudah menjadi gaya khas penulisan ala Kak Vibi. Dan kabar baiknya, saya suka sekaliii.
“Tidur sesaat menunggu si Bos sesat.” (p.37) 
“Hah, arah pembicaraannya mulai tak tertebak, tapi bisa dipastikan gak enak.” (p.58)
“Aku ingin dikenal sebagai TKI tampan atletis dan hobi pamer betis.” (p.63)
“Ingin mengeluh, tapi rasanya belum butuh.” (p.67)
“Hari demi hari tidak ada yang baru. Aku masih setia jadi babu.” (p.79)
“Untuk sebuah umpan, kita memang harus berkorban.” (p.206)
“Anak-anak manja ini, sekali semprot langsung kempot. Banyak gaya tapi tak berdaya.” (p.203)
“Kalau sampai mereka membuat onar, aku tidak akan segan-segan meliar.” (p.238)
“Hari mulai lelap, aku tertidur lelap.” (p.330)

Ada juga nih, kata-kata Kak Vibi yang bagi saya puitis mengikis iris buncis, apacih! Hahaha.
“Akhirnya kunyalakan AC kamar sampai suhu terdingin, merekayasa tubuh agar rindu air panas.” (p.53)
“Saat kacanya kugeser dikit saja, angin panas berebut masuk. Oh, bahkan angin pun ingin mendinginkan diri.” (p.53-54)
“Baru jalan 2 meter, buntelan keringat sudah bisa memandikan kucing 2 ekor.” (p.55)
Awalnya saya tahu tentang Kak Vibi karena Kak Trinity (Penulis buku Naked Traveler) ada ngetweet tentang blog Kak Vibi, setelah baca, saya jadi ingin tahu siapa Kak Vibi sebenarnya. Dan akhirnya menjadi penggemar ringan-nya sampai saat ini.



Setelah pada membaca buku ini, selain banyak yang memuji, Kak Vibi juga kerap menerima hinaan yang tidak sedikit ditambah nyelekit. Kak Vibi sering diteror dan sampai ban mobil Kak Vibi pun jadi korban-nya. Ada yang merasa Kak Vibi menghina Islam, ada yang bilang di Arab tidak ada kejadian seperti itu, ada yang bilang kisah di buku-nya mengada-ngada dan Kak Vibi nggak pernah suruh percaya. Kan, kan... saya jadi #kenavirusberiramadaritadi

Saya suka dan salut sekali sama Kak Vibi, walaupun nggak ganteng #maapkak tapi menarik. Menarik karena Kak Vibi berani banget menulis tentang kenyataan yang dialaminya di Arab. Mungkin ini yang Kak Vibi pegang teguh: 
"Dipuji atau dicaci maki, akan berkarya sampai mati."
Saya yakin dengan sok tahu, lahirnya 1 kalimat motto Kak Vibi tersebut dikarenakan pengalaman pahit yang lebih sering Kak Vibi terima, walaupun manis nya tetap ada sih, icip-icip gitu.


Moral of the story
1. Setelah menamatkan buku ini dalam 3 hari. Saya sadar, ternyata baca buku yang tebal-nya 443 halaman terasa mudah karena saya selalu penasaran. Dari rasa penasaran itulah saya menelusuri buku ini sampai habis dan mengetahui cukup banyak hal.
2. Merasa sangat bersyukur sekali bisa lahir dan menetap di Indonesia. Seperti kata Kak Vibi: 
"Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagipula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."
---

Kak Vibi! Berkarya terus yah, saya tunggu buku non-fiksi selanjutnya. Saya suka sekali rangkaian kata-kata yang dibuat dengan sangat cerdas dan pas. Saya juga salut banget sama keberanian dan kejujuran Kak Valiant Budi!

Salam berkarya sampai mati!