Minggu, 30 Agustus 2015

[Book Review] Kedai 1002 Mimpi

Sudah baca Kedai 1001 Mimpi ? Nah, kalau sudah, silahkan baca buku lanjutan-nya: Kedai 1002 Mimpi. Kak Vibi menceritakan awal kisah-nya saat ingin menulis Kedai 1001 Mimpi dan menjabarkan kegiatan-nya setelah pulang dari Arab ke Bandung, Indonesia. Yihaaaaa!

Tetapi,
ternyata pulang ke Indonesia bukanlah akhir dari mimpi buruk Kak Vibi, dia kerap mengalami mimpi buruk, sampai saat jalan kaki diserempet motor yang sepertinya sengaja, hadiah yang tak diinginkan seperti hinaan dan teror pun sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Kak Vibi.

Bagusnya,
untuk mengisi waktu dan dompet, Kak Vibi bersama Kak VanVan (Kakak perempuan-nya) membangun sebuah rumah makan: Warung Ngebul.

Ironisnya,
saat menjalani Warung Ngebul, beberapa kali didatangi beberapa penawar jasa gaib! Sampai menawari ‘hewan’ peliharaan seperti: Babi ngepet, ratu ular pesugihan, bulus putih, macan kerah dan entah apa lagi.

Dan Kak Vibi
juga menceritakan salah satu kenyataan pahit asam kalau dia pernah ditawari ajakan sopan yang brutal yaitu threesome oleh rekan kerja-nya saat di Saudi. Nama rekan kerja-nya Raul Gonzales. Ya, Anda tidak salah, dia diajak threesome sama laki! Oalah.


Quotes yang menurut saya Kak Vibi seperti biasa-nya yang jago banget membentuk kata demi kata:
“Mungkin Tuhan sengaja memberikan dingin, agar siap menerima sapaan panas.” (p.78)
“Gelak tawa Teh Yuti mampu menghilangkan sekejap kenangan burukku tentang Saudi. Aku ingin sekali meramu tawanya ke dalam kapsul untuk minum tiga kali sehari.” (p.57)
“Aku jadi belajar sesuatu, bila terlanjur dituduh menyeburkan diri, kita sekalian saja loncat indah.” (p.82)
“Aku lebih senang pamer hasil, ketimbang pamer rencana.” (p.90)


Dan, seperti biasanya lagi, Kata-kata berirama Kak Vibi pun berhamburan rapi di buku ini:
“Tak diduga, tapi penuh sangka.” (p.82)
“Saat warung tutup, kami semua basah kuyup.” (p.88)
“Aku bisa kembali membaca buku tanpa hambatan, atau sekadar berbincang-bincang dengan tanaman.” (p.175)
“Beberapa rupa mereka kukenal akrab, sisanya terasa asing. Atau memang aku yang sengaja berpaling.” (p.182)
“Seringkali aku tertidur bahagia, terbangun nestapa.” (p.198)
“Tapi sudahlah, aku mengalah. Mungkin memang benar-benar salah.” (p.206)
“Aku mendambakan hening yang lebih bening, walaupun itu harus menempuh berbagai tebing.” (p.208)
“Mereka bebas menghina, kita bebas berkarya.” (p.322)
“Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.” (p.334)
“Dipuji atau dicaci maki, akan berkarya sampai mati.” (p.334)


Di buku ini dipastikan nggak kalah seru-nya dengan Kedai 1001 Mimpi, jika banyak yang bilang buku ini nggak se-seru Kedai 1001 Mimpi, silahkan baca dan pahami kalimat ini lagi dan lagi: 
"Bisa jadi, jalan terbaik untuk menikmati sebuah karya adalah mengosongkan harapan sebelum membuka lembaran.”

Ini dia, kritikan ataupun hinaan dari para pembaca yang diceritakan di buku ini:
Pembaca membual: 
"Kedai 1001 Mimpi banyak yang ngaco! Anda jangan mengada-ada. Beberapa adegan harus diganti.”

Kak Vibi membalas:“Saya tidak pernah meminta Anda untuk percaya buku saya. Malah di buku Kedai 1001 Mimpi saya memohon pembaca untuk mencari data dan fakta sendiri.”



Saya tetap mendoakan Kak Vibi agar selalu kuat menghadapi cobaan dari para makhluk. Dan yang buat saya lebih senang baca buku ini karena typo nya lebih dikit ketimbang Kedai 1001 Mimpi. Jadi lebih nyaman bacanya. Anda siap untuk membaca kisah-nya lagi?


Salam berkarya!