Selasa, 04 Agustus 2015

[Book Review] "Tuesdays with Morrie"

Pertama kali membaca kata “Tuesdays with Morrie” saya kirain sebuah film. Eh, ternyata buku! Ah, ntah saya kurang perhatiin atau apa. Yang jelas, saya selesaikan membaca bukunya yang 209 halaman hanya dalam sehari. Bukan apa-apa sih, cuma saya jarang banget baca buku langsung bisa selesai dalam sehari. Hati-hati, buku ini seperti candu yang sekali memulai, sulit untuk berhenti membaca.



Tak perlu dielak lagi, ini buku dashyat banget pelajaran hidupnya. Bagaimana tidak, seorang professor bernama Morrie menderita penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau penyakit Lou Gehrig adalah penyakit ganas, tak kenal ampun, yang menyerang sistem saraf, yang juga menimpa Stephen Hawking. Bahkan, menurut statistik, penyakit ALS ini 90% tidak bisa disembuhkan. Benarkah? Mengenai hal ini, dr. H. Taufan Budi S, SpBs dari RS Medistra dan RS Satyanegara, Jakarta, menjelaskan, ALS adalah penyakit degenerasi saraf motorik yang progresif atau makin lama makin buruk. Saraf pada otot motorik atau pergerakan, mulai dari otak ke sumsum tulang belakang lalu ke otot, mengalami degenerasi atau penuaan. Akibatnya, otot motorik atau otot lurik yang berfungsi sebagai pergerakan tidak dapat menerima perintah otak. 


---

Oke, saya tidak mau panjang lebar tentang penyakitnya, saya hanya memberi sedikit informasi bahwa penyakit tersebut sangatlah ganas. Bisa dibilang badan seseorang akan lumpuh pelan-pelan dengan pasti.

Ya, pada tahun 1994, Morrie mulai menderita penyakit yang tak kenal ampun ini. Mitch, mahasiswa yang dulunya selalu berbagi cerita dengan Morrie, yang juga tidak bertemu selama 16 tahun. Pergi menemui Morrie setelah Ia tahu keadaan Morrie saat itu, yang Mitch ketahui dari suatu kebetulan. Sebuah kisah baru saja dimulai.

Seseorang yang menderita penyakit ALS, pasti down tapi Morrie memandang penyakitnya sebagai makna yang berarti dan banyak yang Morrie pelajari sehubungan dengan penyakit ini. Setiap Selasa, 2 manusia Selasa: Morrie dan Mitch berbincang mengenai apapun: Tentang kematian, emosi, keluarga, perkawinan, uang, dll.


Ini beberapa quotes yang dikatakan Morrie kepada Mitch :
“Setiap orang mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya bahwa itu bisa terjadi pada mereka dalam waktu dekat.”  (p.85) 
“Jika kau menerima bahwa kau dapat mati kapan saja──barangkali kau tak akan seambisius sekarang.”  (p.89) 
“Segala sesuatu yang menyita waktumu──pekerjaanmu──mungkin tak sepenting yang kau kira. Kau mungkin perlu menyisihkan ruang untuk kehidupan spiritual.”  (p.89) 
"Kau tahu salah satu yang diajarkan Buddhisme? Jangan mengikatkan diri pada kebendaan, karena segala sesuatu tidak kekal."  (p.109) 
“Apabila kita belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar cara menghadapi hidup.”  (p.111)
“Semakin bertambah usia kita, semakin banyak yang kita pelajari. Apabila usia kita tetap 20 tahun, kita akan sama bodohnya dengan usia 20 tahun. Kita tahu bahwa penuaan tidak hanya berarti pelapukan, tetapi juga pertumbuhan. Penuaan tidak hanya bermakna negatif, bahwa kita akan mati, tetapi juga makna positif, bahwa kita mengerti kenyataan bahwa kita akan mati, dan karena itu kita berusaha untuk hidup dengan cara lebih baik.”  (p.125-126)

Beruntung sekali Mitch, bisa mengenal sosok Morrie dengan begitu baik dan yang saya lihat hubungan mereka seperti ayah dan anak, bahkan kedekatan mereka melebihi ayah dan anak kandung pada umumnya. Morrie juga berkata jika ingin punya anak lagi, dia ingin anak itu yang tak lain dan tak bukan adalah Mitch.

Ah, saya terlalu jatuh cinta dengan buku ini. Morrie sangat bisa memaknai hidupnya sebegitu berarti, walaupun ditengah-tengah keadaan yang sangat mencekamnya. Penyakit nya yang terus menggerogoti tubuh nya tanpa belas kasihan. Morrie yang berhati besar, humoris dan tenang dalam menghadapi ajal nya. Mungkin saja ajaran Buddhisme yang membuat Morrie bisa berdamai dengan keadaan nya itu. Karena beliau beberapa kali di dalam buku menyebutkan kata "Buddhisme". Dan di dalam buku ini mempunyai alur cerita maju mundur, bab yang hurufnya dicetak miring kebanyakan tentang masa lalu. Mungkin ini salah satu ciri khas Mitchell Albom dalam menulis buku. Keren deng!

Saya sengaja tulis dan post tentang ini tepat pada hari Selasa juga supaya lebih greget gitu sesuai dengan judul bukunya, hihihi :D Semoga kata-kata Morrie yang bermakna bisa kita praktekkan dalam hidup ini. Walaupun saya hanya mengenal sosok Morrie lewat yang diceritakan Mitch di buku, tapi saat baca bukunya berasa Morrie langsung berbicara kepada saya mengenai makna hidup. Ah, saya ingin sekali mempunyai guru seperti Morrie, atau bahkan ingin punya ayah seperti Morrie. Well done, Mitch! Yang sudah menceritakan dan menyampaikan kata-kata Morrie yang begitu dalam maknanya tapi tak sulit dipahami. Membuat para pembaca hanyut, tetapi tidak terhanyut. Thank you, Morrie.
---

Sedikit tambahan, walaupun saya tidak mengenalnya langsung, saya rasa sangat pantas jika saya sangat berterima kasih kepada Alex Tri Kantjono Widodo, sebagai alih bahasa buku ini, yang diterjemahkan dengan sangat baik, karena saya tahu menerjemahkan sangat melelahkan dan sangat memakan daya pikir kita, saya pernah alami. Dan juga karena saya yang tidak terlalu pintar dalam berbahasa inggris, sangat merasakan kemudahan dalam pemahaman saat membaca dengan bahasa tercinta kita sendiri, yaitu bahasa Indonesia. Thank a lot, Alex. Whoever you are, you did really a good job.