Minggu, 20 Desember 2015

Menjadi Apa Adanya Seperti Alam

Aku ingin bersikap seperti 
lautan ataupun langit beserta awannya yang jika dipuja ataupun dikritik tetap tidak bertingkah, mereka tetap senantiasa tenang pada waktunya dan menjadi gelap dan menurunkan hujan pada waktunya. Aku pun ingin mewarisi sikap bunga, yang bisa dipuji dan dicaci tetap saja akan mekar dan layu pada waktunya. Menjadi apa adanya.

Alam selalu memberi kita 
contoh untuk menjadi apa adanya. Mungkin sebagian dari kita ingin menyenangi orang lain. Yang dipuja, melambung. Yang dihina, mendendam dalam lautan amarah. Kita mungkin terlalu menilai tinggi pujian dan menilai terlalu rendah cacian, sehingga hati kita dibutakan oleh keduanya.

Kita menjalani hidup dalam 
pendapat orang, yang mungkin bertujuan untuk menyenangkan hati orang. Kita takut untuk menjalani hidup ini sesuai hati kita. Kita lupa pada tujuan asli kita. Hanya demi pujian, kita melakukannya. Jika tidak dipuji yang malah akan dicaci, kita tidak ingin melakukannya. Contoh: seorang pejabat akan senantiasa memberi sebagian harta nya jika media menyoroti tindakan nya yang baik, beliau senang jika banyak orang tahu kebaikannya, dan tidak akan memberi tanpa disoroti publik. Mungkin beliau tidak sadar bahwa tujuan aslinya yaitu membantu meringankan kehidupan ekonomi orang yang dibantu. Apakah ini apa adanya?

Apakah kita melakukan sesuatu demi pujian? Ketenaran? Kebanggaan? Pengakuan? Bukankah ini asupan untuk ego kita agar terus bertumbuh?
Apakah memang kebaikan tulus itu asing? Apakah orang-orang seperti kita hilang keasliannya dan tujuan eksistensi nya sebagai makhluk ciptaannya?

Nb: Saya pun bingung mengapa bisa tulis seperti ini, hanya saja, saya mempunyai kata-kata yang jika tidak saya keluarkan, rasanya tidak enak, seperti menyimpan sebuah rahasia. Yang terus ditutupi, pada akhirnya akan terungkap sendiri.

有一句话说:不要在别人的眼光活着 (Jangan hidup dalam pandangan orang)